UKM Indonesia Siap Bersaing di Kancah Global

UKM Indonesia Siap Bersaing di Kancah Global

Penelitian Global Oxford Economics yang disponsori oleh SAP memperlihatkan bahwa perusahaan kecil dan menengah di Indonesia sedang bersiap untuk berkompetisi secara internasional melalui transformasi bisnis dan investasi pada teknologi inovatif.

Hasil penelitian Oxford Economics yang disponsori oleh SAP mengungkap bahwa perusahaan kecil dan menengah (UKM) di Indonesia dan di seluruh dunia sedang membuat perubahan besar pada cara berbisnis, produk-produk, dan strategi pemasaran mereka.

Dengan demikian UKM melengkapi diri untuk dapat bersaing secara global. UKM juga berkompetisi dengan perusahaan yang lebih besar, mereka berinvestasi pada teknologi untuk meningkatkan operasi mereka dan menjadi lebih efisien.

Survei global—yang dilakukan secara online pada April 2013—terhadap 2.100 eksekutif UKM di 21 negara, termasuk di Indonesia, menunjukkan mereka yakin bahwa mereka melengkapi diri untuk bersaing dengan perusahaan lebih besar dan memiliki beberapa keunggulan nyata untuk bisa melebihi perusahaan yang lebih besar.

Riset_UKM_01Temuan-temuan pada penelitian tersebut memutarbalikkan stereotipe dari perusahaan lebih kecil sebagai perusahaan lokal atau regional yang sebagian besar fobia terhadap teknologi.

”Temuan menyeluruh dari penelitian ini adalah bahwa UKM yang sukses di Indonesia akan berekspansi ke luar pasar domestik mereka untuk mempercepat pertumbuhan. Dengan demikian, mereka menghadapi persaingan ketat dari perusahaan multinasional besar dan memberdayakan pelanggan pada pasar yang baru. UKM Indonesia perlu berinvestasi dalam inovasi teknologi terbaru untuk mengembangkan model bisnis mereka dan bersaing secara efektif di kancah internasional yang baru,” kata Suraj Pai, Wakil Presiden, Solusi Platform, SAP Asia Tenggara.

Temuan-temuan penting dari penelitian ini, meliputi:

UKM Indonesia diharapkan tumbuh di luar pasar domestik mereka selagi menghadapi kompetisi global yang meningkat pada pasar domestik. Sebanyak 13% responden Indonesia saat ini melakukan bisnis sepenuhnya di pasar domestik dan angka tersebut diperkirakan turun tajam menjadi hanya 2% dalam tiga tahun.

Selain itu, UKM Indonesia yang menghasilkan lebih seperlima dari pendapatan mereka dari luar negeri diproyeksikan meningkat dari 56% saat ini menjadi 74% dalam tiga tahun. Sementara, 14% dari UKM Indonesia yang disurvei tidak menghasilkan pendapatan dari luar Indonesia saat ini, angka tersebut turun menjadi hanya 5% dalam tiga tahun. Lebih dari setengah (55%) responden di Indonesia mengatakan mereka bersaing dengan lebih banyak perusahaan asing saat ini dibandingkan pada masa lalu.

Di Indonesia, tenaga kerja dan masalah ekonomi adalah kekhawatiran tertinggi bagi UKM. Meningkatnya biaya tenaga kerja yang dikutip dari 39% dari UKM Indonesia yang disurvei adalah aspek utama yang memengaruhi bisnis mereka saat ini. Ketidakpastian ekonomi (36%) dan pergeseran ekspektasi pelanggan (30%) menempati urutan kedua dan ketiga yang memengaruhi pasar lokal mereka.

UKM Indonesia sadar mereka harus melakukan transformasi bisnis untuk bisa bersaing. UKM Indonesia memahami kebutuhan untuk memikirkan kembali strategi bisnis mereka dalam rangka beradaptasi dengan pasar yang semakin global. Dua per tiga dari responden di Indonesia baru saja selesai, tengah, atau akan memulai transformasi bisnis yang signifikan.

Riset_UKM_02

Sebanyak 64% dari UKM Indonesia yang disurvei setuju bahwa transformasi sangat penting untuk bertahan dalam persaingan. Lebih dari setengah responden di Indonesia (56%) mengatakan bahwa memperluas produk dan jasa sangatlah penting untuk mendorong pertumbuhan di era pasar baru dan pelanggan yang berdaya.

Teknologi adalah hal penting bagi UKM Indonesia dan merupakan elemen utama dalam transformasi bisnis. Berinvestasi teknologi baru adalah salah satu prioritas strategis bagi UKM dalam mentransformasi bisnis mereka untuk pasar global. Lebih dari setengah UKM Indonesia yang disurvei sangat percaya bahwa teknologi membantu mereka menjaga kelanggengan bisnis dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dalam hal investasi, 55% dari perusahaan menyebutkan teknologi mobile sebagai prioritas terbesar, diikuti oleh media sosial (51%) dan perangkat lunak manajemen bisnis (42%). Sejumlah 63% dari UKM Indonesia mengatakan investasi teknologi mereka tergantung pada sebuah hasil yang jelas atas investasi (return on investment).

Teknologi inovatif adalah kunci untuk meningkatkan pengembangan layanan serta produk dan mendorong efisiensi-efisiensi biaya. UKM Indonesia melihat pengembangan layanan serta produk dan mendorong efisiensi-efisiensi biaya sebagai dua manfaat terbesar dari penerapan teknologi disruptif.

Riset_UKM_03Komputasi awan (cloud computing) dan teknologimobile diharapkan memperlihatkan peningkatan terbesar terhadap adopsi di seluruh UKM Indonesia, pada 100% dan 40%, dibandingkan tingkat pertumbuhan global sebesar 35% dan 18% masing-masing. Lebih dari setengah dari UKM Indonesia yang disurvei (52%) mengharapkan media sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan selama tiga tahun ke depan.

UKM Indonesia menghadapi berbagai rintangan dalam adopsi teknologi. Hampir setengah dari responden di Indonesia (46%) mengatakan komputasi awan merupakan kunci untuk mendorong efisiensi biaya, dan adopsi teknologi cloud oleh UKM Indonesia diperkirakan akan tumbuh pesat dalam tiga tahun ke depan.

Masalah keamanan (54%) dan kurangnya pemahaman tentang manfaat dari komputasi awan (40%) adalah tantangan utama untuk adopsi cloud, demikian menurut UKM Indonesia yang disurvei. Selain itu, 63% UKM Indonesia khawatir tentang akurasi dan keandalan informasi ketika menggunakan analisis data.

“Jalan di masa depan ditandai baik bagi UKM di Asia Pasifik. Globalisasi, transformasi, dan teknologi akan menjadi keunggulan dari perusahaan kecil dan menengah yang sukses,” kata Edward Cone, redaktur pelaksana dan analis senior di Oxford Economics.

Sumber: Oxford Economics & SAP

Share